Ada Hari Gurita Internasional di Luwuk Timur, Seperti Apa Itu?

Bagikan Artikel

Banggai – Nelayan dan masyarakat pesisir di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, memperingati Hari Gurita Internasional atau World Octopus Day pada hari Jumat 8 Oktober 2021). Tujuan perayaan hari gurita adalah untuk merayakan keanekaragamannya, konservasi, dan biologi-nya. Di Indonesia pemanfaatan gurita dilakukan oleh nelayan skala kecil dengan penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan, seperti yang banyak dilakukan oleh nelayan di Desa Uwedikan.

Perayaan ini diinisiasi oleh Jaring Advokasi Pengelolaan Sumberdaya Alam (JAPESDA), sebuah lembaga non pemerintah yang didukung oleh Yayasan Pesisir Lestari. Kegiatan dimulai pagi hari pukul 09:00 WITA, dimulai dengan pemberian materi teknis soal transplantasi karang oleh Samsu Adi Rahman, dosen fakultas perikanan Universitas Muhammadiyah Luwuk, juga tenaga ahli dalam bidang transplantasi terumbu karang.

Dirinya menjelaskan tentang betapa pentingnya terumbu karang bagi gurita, maupun perikanan lainnya. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak menjaga terumbu karang. Karena keduanya—gurita dan terumbu—saling keterkaitan dan keterikatan.

“Terumbu karang itu kan rumah bagi gurita. Coba kalau kita rumahnya rusak, dihancurkan, kita juga pasti akan pindah dan mencari tempat lain,” ujar Adi.

Nelayan diberi penjelasan bagaimana cara melakukan transplantasi hingga dan pentingnya melakukan pengawasan. Setelah itu, nelayan mempraktikan langsung dan didampingi konsultan. Ada sekitar 20 modul tanam terumbu karang yang akan ditanam dalam beberapa hari ke depan.

Setelah praktik selesai, dilanjutkan suguhan kuliner lokal seperti onyop, sinole, jepa, yang menggunakan bahan dasar sagu, serta beberapa menu makanan tradisional yang berbahan dasar gurita. Kemudian usai sholat Jumat, kegiatan berlanjut dengan menampilkan tarian tentang gurita.

Kegiatan selanjutnya adalah sesi berbagi cerita dan pengalaman tentang “Pengelolaan Perikanan Skala Kecil”. Nelayan dan pemerintah desa memberikan testimoni tentang program perikanan gurita di Desa Uwedikan. Tak hanya itu, ada juga Dekan Fakultas Perikanan Universitas Muhammadiyah Luwuk, Erwin Wuniarto yang menjadi pembanding dan menjelaskan soal kajian-kajian ilmiah soal gurita.

“Saya mendukung dengan apa yang dikerjakan oleh teman-teman Japesda di Uwedikan ini. Apalagi soal model pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Ini sebuah model pengelolaan perikanan tangkap yang baik untuk masyarakat dan nelayan, apalagi soal perikanan gurita,” kata Erwin.

Dia juga mengajak kerjasama Japesda dan nelayan untuk bagaimana memasarkan hasil tangkapan gurita nelayan langsung ke pihak-pihak perusahaan. Membantu nelayan agar dapat meningkatkan ekonomi mereka, juga bisa memutus rantai distribusi yang panjang antara nelayan, pengepul, dan perusahaan.

Kepala Urusan Pemerintahan Desa Uwedikan, mewakili pemerintah desa, Arif Pampawa menjelaskan bahwa pemerintah desa selalu mendukung kegiatan Japesda, apalagi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui perikanan gurita, karena sesuai dengan visi dan misi Pemdes Uwedikan yakni meningkatkan perekonomian masyarakat nelayan.

Sementara itu, Irham Summang, salah seorang nelayan gurita di Desa Uwedikan mengakui program perikanan gurita banyak mengedukasi mereka. Ia memberi contoh, beberapa waktu lalu, ia dan beberapa nelayan diajak ke Desa Darawa, Wakatobi, untuk melihat langsung bagaimana pengelolaan perikanan gurita yang ada di sana.

“Soal metode buka tutup sementara dan kami menyaksikan sendiri hasil nelayan di sana sangat baik. Dan ketika kami lakukan di sini, saya melihat lubang-lubang gurita di karang sudah mulai ada dan banyak, dan itu belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya.

Irham pun berharap, JAPESDA akan selalu memberikan masukan kelompok pengawas terkait kerja pengawasan lokasi tangkap gurita yang sebulan yang lalu ditutup. Rangkaian perayaan hari gurita ditutup dengan pembacaan puisi dari komunitas Babasal Mombasa, komunitas literasi yang di Kabupaten Banggai. Hari gurita internasional kali ini, Japesda mengambil tema “Gurita Untuk Kehidupan”. Gurita bisa menjadi pintu masuk dalam menjaga kelestarian terumbu karang serta menjadi penopang dalam menunjang perekonomian masyarakat, khususnya nelayan skala kecil.***