Tengkulak Menari Harga CPO Melonjak Petani Sawit Merana

Harga sawit dunia merangkak naik. Namun petani di Indonesia belum ikut menikmati secara wajar. Skema perdagangan sawit dinilai menjadi salah satu sebab.

Bagikan Artikel
Gambar petani sawit panen tandan buah segar (TBS) dok istimewa

JAKARTA– Puluhan tahun sudah Kanisius Tereng menjadi petani sawit di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Sejak tiga bulan terakhir, dia mengaku harga sawit bergerak naik. Sayangnya, mereka yang berkebun setiap hari dan memanen tandan sawit, tak mampu merasakan manisnya tren dunia itu. Pasalnya, mereka tak bisa menolak peran tengkulak dalam sistem perdagangan sawit.

“Petani tidak berhubungan langsung sama pabrik. Jadi harga yang terkesan lumayan besar ini bukan harga pabrik. Ada oknum tertentu saja yang menikmati. Kalau petani, karena tidak berhubungan sama pabrik, jadi tetap harga ini masih diatur sama tengkulak,” kata Tereng ketika dihubungi VOA.

Di kalangan petani sawit Kalimantan Timur, dikenal istilah loding. Loding ini terdiri dari sejumlahtengkulak, yang memiliki akses menjual sawit ke pabrik pengolahan. Menurut Tereng, harga beli yang ditetapkan masing-masing loding memang berbeda. Petani bisa memilih ke loding mana, sawit hasil kebunnya akan dijual.

Saat ini, harga perkilo Tandan Buah Segar (TBS) ada di kisaran Rp 3 ribu. Jauh lebih baik dari harga di masa lalu, yang bahkan bisa menyentuh di bawah Rp 1.000. Tetapi, Tereng yakin loding-lodingini sudah punya kesepakatan harga, berapa akan mereka naikkan atau turunkan. Jadi, sebenarnya, mau dijual kemana saja, petani tetap tidak memiliki posisi tawar yang memadai. “Harga yang menentukan mereka, kapan saja mereka mau naik, kapan mau turun, itu tengkulak yang punya urusan. Karena tengkulak sudah punya kerja sama dengan pabrik,” tambahnya.

Tereng pernah mencoba menekan peran tengkulak, dengan mendirikan koperasi dan meminta jalur kerja sama kemitraan dengan pabrik. Memang ada kesempatan, tetapi satu persyaratan tidak bisa dipenuhi, dan syarat ini sebenarnya ada di tangan pemerintah.

“Saya pernah coba mengajukan kemitraan, tetapi kurang syarat Surat Tanda Daftar Budidaya. Tetapi itu tidak bisa, sementara surat ini tanggung jawab pemerintah. Ada peran pemerintah bagaimana untuk bisa menjalin kerja sama itu,” kata Tereng.

Sampai sekarang, upaya bermitra dengan pabrik itu belum berhasil. Petani sawit masih harus menjual hasil panennya, melalui tengkulak. Padahal ada selisih harga yang lumayan besar. Jika setiap kilogram harga pabrik dan harga petani berbeda Rp 500 saja, maka Tereng yang sebulan bisa menjual hingga 10 ton sawit, kehilangan potensi pendapatan Rp 5 juga perbulan.

Harga Pangan Naik

1
2
3
4