Teroris Himpun Dana Mulai dari Koin Hingga Jadi Senjata dan Peluru

Teroris Himpun Dana Mulai dari Koin Hingga Jadi Senjata dan Peluru

"Kemudian untuk tanda-tanda daripada infak contohnya seperti ini, ini ada tulisannya. Misalnya kotak infak panti asuhan saja, nggak ada nomor registrasi, nggak ada nomor izin juga tidak ada," kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (20/8/2021). Sumber | dok detik.com

Bagikan Artikel

JAKARTA– Terorisme adalah ideologi global, begitu pula uang yang membiayainya. Indonesia menerima miliaran dana teror, begitupun sebaliknya, kiriman rupiah juga mengalir ke negara-negara konflik.

Kisah Hendro Fernando, mantan teroris yang tergabung dalam Mujahidin Indonesia Timur (MIT) bisa menjadi gambaran kecil untuk mewakili peta besar kelindan uang untuk ongkos teror. Hendro sempat dipenjara di Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah dan baru bebas November 2020. Dia bergabung dengan MIT dan memiliki tugas untuk mengalirkan dana teror dari dan ke Indonesia sepanjang 2014-2016

Ada satu cerita, ketika Hendro meminta dana Rp1,3 miliar rupiah ke Amir ISIS di Suriah. Dana itu dihitung sesuai kebutuhan logistik untuk jaringan MIT Santoso selama bertahan di pegunungan di Sulawesi Tengah. Uang itu ada di Turki, dan Hendro diminta mengambilnya secara tunai. Tentu bukan tugas mudah, harus ada siasat teknis karena tidak mungkin membawanya langsung. Dia akhirnya mengirim satu orang ke Turki untuk mengambil uang itu dan mengirimnya ke Indonesia.

“Kita menemukan cara menggeser dana tersebut dengan waktu sekitar seminggu, yaitu dengan penggeseran dana melalui Western Union. Kita pecah dana tersebut di berbagai data. Saya mengumpulkan sepuluh data penerima. Akhirnya masuklah dana tersebut ke Indonesia,” ujar Hendro.

Kisah itu dia paparkan dalam diskusi daring terkait modus donasi pendanaan teror. Diskusi diselenggarakan Badan Penanggulangan Ekstrimisme dan Terorisme (BPET), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jumat (13/8) sore.

Hendro juga memberi contoh bagaimana modus berbeda dilakukan. Ketika seorang warga Indonesia di Suriah masih memiliki aset di Tanah Air, MIT akan mengambil aset tersebut. Pada saat yang sama, pimpinan ISIS di Suriah akan mengganti sejumlah uang kepada pemilik aset, yang juga WNI itu. Tidak ada perjalanan uang lintas negara dalam sistem ini, tetapi pendanaan teroris tetap bisa berjalan.

“Ini teknisnya sampai sekarang mungkin masih ada,” ujar Hendro.

Transaksi Mencurigakan Naik

1
2
3
4