Tiga Petani Desa Kabuyu Ditahan: Tim Kuasa Hukum Ajukan Penangguhan Penahanan

Jaringan Advokasi Sawit Sulawesi Tengah mengkaji ada dugaan penolakan perkebunan kelapa sawit yang merampas tanah ulayat masyarakat Desa Kabuyu bagian dari intimidasi untuk melemahkan perjuangan mereka.

Bagikan Artikel
Masyarakat Desa Kabuyu demo memajang keterangan bahwa Presiden Joko Widodo telah mencabut izin perusahan wilayah Letawa I dan Letawa II terletak di Kabupaten Pasang Kayu telah dicabut dok sorotan video

PALU– Tiga petani Desa Kabuyu ditahan Polres Pasang Kayu, Sulawesi Barat pada Rabu, (9/3/2022) malam. Kata Putri Ketua Jaringan Advokasi Sawit Sulawesi Tengah meminta kepada Kapolres Pasangkayu untuk menangguhkan penahanan.

“Penahanan 3 Petani Desa Kabuyu diduga melakukan pengancaman supir truk saat pengangkut buah sawit PT Mamuang pada Februari 2022,” ungkapnya Senin, 14 Maret 2022.

Putri mengungkap petani yang dilapor berjumlah enam orang pada 25 Februari 2022 oleh Sopir truk di kantor Polres Pasangkayu. Dengan dasar laporan mendapat ancaman. Kemudian Kepolisian Pasang Kayu mengeluarkan Laporan Polisi Nomor : LP/B/39/II/2022/SPKT/POLRES/PASANGKAYU/POLDA SULAWESI BARAT.

 “Dari 6 petani diperiksa sebagai saksi. 3 petani telah dijadikan tersangka dan saat itu juga ditahan oleh Polres Pasangkayu,” jelas Putri saat ini menjabat Direktur Perhimpunan Bantuan Hukum Rakyat (PBHR) Sulawesi Tengah.

Atas penahanan yang dilakukan. Ungkap Putri, tim kuasa hukum berjumlah delapan pengacara mewakili Jaringan Advokasi Sawit Sulawesi Tengah mendatangi Polres Pasangkayu. Kedatangan itu untuk meminta penangguhan penahanan tiga orang petani telah dijadikan tersangka. Saat ini, masih ditahan Polres Pasangkayu.  

“Intinya, meminta kepada Kapolres Pasangkayu untuk menangguhkan penahanan kepada tiga orang petani yang ditahan,” ungkapnya.

Berita terkait:

Ia menjelaskan mengenai isi pokok permohonan dalam surat yang diajukan dapat menjadi pertimbangan Kapolres Pasang Kayu. Kami berharap Kapolres Pasangkayu dapat mengabulkan permohonan penangguhan penahanan dengan mendasari “para petani yang ditahan merupakan tulang punggung pencari nafkah keluarga.”

Mengenai pola penahanan tiga orang petani asal Desa Kabuyu. Ungkap Putri menjadi kajian dalam internal Jaringan Advokasi Sawit Sulawesi Tengah,
terdiri WALHI Sulawesi Tengah, Perkumpulan Evergreen Indonesia (PEI), PBHR, Yayasan Pendidikan Rakyat (YPR), Yayasan Masyarakat Madani Indonesia (YAMM), Simpul Layanan Pemetaan Partisipatif (SLPP) Sulawesi Tengah, Jaringan Humanitarian dan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Sulawesi Tengah.

Menganggap penahanan kepada tiga orang petani adalah upaya pembungkaman atau intimidasi kepada masyarakat Desa Kabuyu dalam memperjuangkan hak ulayat (tanah adat) yang di klaim oleh PT Mamuang anak perusahaan Grup PT. Astra Agro Lestari (AAL) yang dijadikan perkebunan kelapa sawit.

 “Perlakuan Kepolisian melakukan penahanan kepada masyarakat mempertahankan hak ulayat atau tanah adat bersifat sepihak. Tak mendasari dasar penolakan masyarakat Desa Kabuyu.” Jelas Putri.

Reporter | Palu, Parigi, Poso, Morut | Sam Kamaruzaman

Untuk mendapatkan update berita harian ikuti web metroluwuk.id atau download aplikasi Telegram mari bergabung klik UPDATE metroluwuk.id

Berita terkait: AMAN Sulteng Kecam Kriminalisasi Masyarakat Adat Kabuyu

@metroluwuk.id