TKA China Banyak di Industri Tambang, Luhut: Kurangnya SDM Terampil Asal Indonesia

Data Kemnaker pada 2019, terdapat 95.168 TKA yang bekerja di Indonesia. Jumlah tersebut turun menjadi 93.374 pada 2020. Pada Mei 2021, tercatat ada 92.058 TKA di Indonesia. Keberadaan TKA di Indonesia saat ini sebagian besar disebut dalam rangka investasi penanaman modal asing.

Bagikan Artikel
Gelombang TKA di industri Tambang Nikel menjadi sorotan masyarakat karena indikasi kesenjangan lapangan kerja. Lokasi gambar PT IMIP Morowali dok ist

JAKARTA– Jumlah tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia, khususnya yang berasal dari China, memang bertambah banyak dalam beberapa tahun terakhir.

Industri di Tanah Air yang cukup banyak menyerap TKA asal China adalah proyek tambang dan smelter.

Sebagaimana diberitakan KOMPAS.com pada Kamis (18/11/2021), Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kurangnya sumber daya manusia (SDM) terampil asal Indonesia membuat TKA yang bekerja di bidang tambang dan proyek smelter semakin banyak.

“Sekarang kita tidak mau hanya ekspor raw material, kita mau itu jadi satu kesatuan. Ini kesalahan kita berpuluh-puluh tahun, kita perbaiki. Memang ada kritik awalnya, ‘kenapa enggak pakai tenaga Indonesia?’ Memang tidak ada,” ujar Luhut.

Luhut mengungkapkan, beberapa perusahaan sulit menemukan SDM Indonesia yang kompeten di proyek smelter Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah.

Kawasan industri di Indonesia Timur ini dibangun oleh perusahaan dari tiga investor China yaitu Tsingshan, Huayou, dan Zhenshi.

“Banyak yang mengeluh, ‘kenapa tidak orang Indonesia semua?’ Ya memang tidak ada, karena kita berpuluh-puluh tahun tidak pernah memperhatikan bangunan poltek yang berkualitas di daerah ini,” kata Luhut.

Luhut menambahkan, ruang kontrol di kawasan industri Weda Bay diisi oleh lulusan yang tidak sesuai bidang akibat minimnya SDM yang sesuai kualifikasi.

Latar belakang pendidikan yang beranekaragam, mulai dari hukum, perawat, dan sejarah, membuat banyak pekerja harus dilatih ulang.

Menurut Luhut, mencari SDM yang sesuai kualifikasi di bidang tambang dan smelter tidak mudah.

“Dia yang di control room orang-orang itu (TKA), karena kita tidak punya. Lebih parahnya, setelah kita bikin poltek, tidak ada pula yang lulus orang daerah. Ini fakta di lapangan yang kita mungkin ketawa dengarnya,” tutur Luhut.

Versi Kementerian Investasi

1
2
3