KKSS Banggai Kedepan Sulianti Murad Sebut Pemimpin Baru Menepis Isu Usang Perilaku Sesat Pikir

Sulianti mengatakan dalam wawancara dikediamannya, lahirnya pemimpin baru siapapun dia dalam organisasi kerukunan asal Sulawesi Selatan punya alat ukur yang dijadikan fundamentalnya yaitu budaya sipakatau, sipakainge dan sipakalebbi diartikan menjadi sikap alat konsolidasi saling menghormati dan menasehati untuk mengingatkan selain itu saling memuliakan ini motivasi dalam tatanan berkehidupan bermasyarakat yang multientitas etnis jalannya roda pembangunan dalam mendukung percepatan pembangunan.

BANGGAI– Sulianti Murad menilai Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Banggai sudah solid dan tak perlu ada polarisasi menimbulkan konflik dan perpecahan. Hal itu dikatakan menjawab kekhawatiran berbagai pihak soal maju mundurnya organisasi terkait kehadiran calon pemimpin baru apalagi perempuan menjadi orang yang memandu berdasarkan visioner tujuan dari cita-cita organisasi kerukunan asal Sulawesi Selatan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

“Pemimpin perempuan memiliki tujuan yang sama dalam memperkuat cita-cita organisasi. Jadi tak selamanya polarisasi adalah konflik dan tidak selamanya polarisasi menjadi perpecahan,” kata Sulianti Murad saat diwawancara metroluwuk.id usai melakukan pendaftaran bakal calon Ketua KKSS Kabupaten Banggai.

Sulianti menjelaskan hiruk pikuk situasi hadirnya bakal calon seorang pemimpin perempuan dari dua orang calon isu yang mulai seleweran. Ini hanya mengenai keinginan seluruh anggota dapat memperbaiki situasi mulai soal tidak berjalan maksimalnya konsolidasi agenda kerja organisasi sampai upgrate data jumlah anggota dan hak suara.

Dilain sisi juga ada banyak desas-desus berkembang berorientasi pemikiran yang bertujuan melahirkan isu liar menjadi perpecahan. Hal ini harus segera diredam karena ini bisa saja membuat organisasi kerukunan tidak berjalan baik yang berujung dapat terjadi perpecahan. Disebabkan cara pandang multitafsir dan tolak lupa bahwa organisasi itu adalah alat belajar tata demokrasi.

Berita terkait:

Kehadirannya dalam bakal calon Ketua, menurutnya adalah menyatukan perbedaan dalam demokrasi yang terus diperjuangan semua rakyat di seluruh Indonesia. Jadi bukan suatu keniscayaan kedepan lahir pemimpin perempuan dalam berbagai organisasi mau dari parpol atau organisasi kemasyarakatan. “Mari bersama-sama mulai menata demokrasi melalui organisasi ini,” ujar Sulianti, sambung dia, hanya perlu di ingat, “tidak semua perbedaan akan berujung pada perpecahan”.

Sulianti mengatakan kepentingannya saat ini adalah memastikan agenda kerja berjalan dengan baik sesuai tujuan dan bukan mendengar dari orang yang pandai berbicara tak memiliki bukti. Namun yang perlu diketahui adalah mengetahui perkembangannya (kemajuannya) dari orang yang benar-benar bekerja.

“Ini adalah visi saya, mewujudkan sebuah demokrasi ada ruang perdebatan dan ada beda pandangan yang bermunculan disebut polarisasi dalam organisasi. Karena itu siapa saja harus dengan perubahan fundamental, cara kerja cerdas untuk memajukan dan terukur,” ujar dia.

Perempuan tidak hanya memanggul beban rumah tangga namun, memiliki kemampuan dalam peran politik universal kehidupan bermasyarakat yang akan dijadikan sebagai pemimpin berkat dukungan kuat seluruh lapisan masyarakat.

Kehadairan saya dalam bursa bakal calon Ketua KKSS Banggai, tidak hanya keinginan yang lahir sendiri, namun mengakomodir rekomendasi beberapa orang pengurus yang berkeinginan pentingnya ada pola kerja yang jauh lebih maju dan terkonsolidasi sampai kepada seluruh anggota di 23 kecamatan dapat terukur.

Namun, bukan berarti kehadiran saya justeru dinilai tidak menghargai mereka yang telah berbuat jauh lebih baik terhadap organisasi ini. Tetapi perubahan itu di mulai dari visioner dan di dukung dengan perbuatan untuk mewujudkan cita-cita organisasi kerukunan tanah leluhur di Kabupaten Banggai, yang telah begitu banyak anggotanya telah kawin mawin dengan multi entitas etnis. “Ini yang harus saya pastikan berjalan dengan benar, karena segala agenda untuk mereka sebagai perujudan aspirasi. Karena mereka adalah orang-orang yang juga memotifasi diri menjadi penopang pembangunan di daerah,” ungkapnya.

Hal lainnya adalah harus dicatat dan penting diaplikasikan dalam agenda kerja KKSS di Banggai, bahwa seluruh anggota yang telah terdata maupun tidak harus tau, bahwa mereka adalah pelaku perwujudan pembangunan dan seharunya terintegrasi dalam agenda kerja KKSS. “Ini, yang disebut adalah visioner mamajukan dari cita-cita organisasi”.

Berita terkait:

Menurut Sulianti, perwujudan dari cita-cita organisasi tak dapat dibendung dan ditampikkan diseret dalam arus kerja politik. Karena organisasi kerukunan tegas mengaturnya, tapi perilaku orangnya menjadikan kepentingan politisasi mungkin tak diatur.

Olehnya yang dijadikan sandaran itu adalah persatuan dan rasa keadilan terwujud dari fundamental dan tidak terprovokasi desas desus berujung konflik dan perpecahan. Kita tidak bisa menyembunyikan soal isu politisasi tapi jadikan itu menjadi pemikiran cerdas dalam berorganisasi agar tak muncul sesat pikir.

Meskipun isu seperti itu liar namun, adanya kekuatan bersama dalam kerukunan ini (KKSS) harusnya sudah wajib diterima. Jika menengok ke belakang cara pandang para pendiri KKSS yakni, Manai Sophiaan, Mayjen TNI Azis Bustam, Brigjen TNI Andi Sose, Letkol (pol) Andi Oddek, Brigjen TNI A. Malik, Baharuddin Lopa, Ahmad Nurhani, Andi Baso Amir, Saleh Tompo, dan Ny. PB Saehu disebutkan “KKSS didasarkan pada pertimbangan keikhlasan membawa KKSS sebagai wadah yang menjadi perekat kerukunan warganya secara paripurna. Mengurus KKSS adalah kemampuan dan kesediaan berkorban, tidak menjadikan jabatan sebagai predikat ketokohan yang subyektif” hal ini perlu dicatat baik-baik dan dijadikan panutan menjalankan mandat organisasi.

“Jadi kehadiran saya, untuk menjadi calon ketua tak hanya bicara mempersatukan. Tapi kita harus menyatukan asal-usul yang bisa saja menyatukan tujuan bersama, yakni keadilan sosial bagi seluruh anggota KKSS,” tuturnya.

Mengenai kekhawatiran adanya polarisasi dalam adu kuat bakal calon Ketua KKSS Banggai, secara tegas Sulianti menyebut saya dengan kalimat dan perbuatan sederhana mengatakan, tiga calon yang telah mendaftar tengah diuji dan so pasti akan diperjuangkan oleh mereka yang paham dengan tujuan. Seperti yang saya, sebut “kehadairan saya dalam bursa bakal calon Ketua KKSS Banggai, tidak hanya keinginan lahir sendiri, namun mengakomodir rekomendasi beberapa orang pengurus yang berkeinginan pentingnya ada pola kerja yang jauh lebih maju dan terkonsolidasi”.

Ini adalah ujian bagi bakal calon ketua sebagai satu dari tiga calon yang menegaskan fundamental mengurus organisasi kerukunan asal Sulsel

Dari tiga nama yakni Sulianti Murad, Akhiruddin dan Mohamad Muas. Sulianti Murad sudah tercatat dalam elektabilitas tokoh politik perempuan jika dilihat dari elektabilitas 6 dari 7 tokoh perempuan di Sulawesi Tengah 2 di Banggai populis di masyarakat.

Reporter | Irwan Merdeka

Untuk mendapatkan update berita harian ikuti web metroluwuk.id atau download aplikasi Telegram mari bergabung klik UPDATE metroluwuk.id

Berita terkait: KPU Banggai Sebut 3.586 Pemilih Tak Sinkron Data SIAK Kemendagri

@metroluwuk